Urgensi Tarbiyah Dan Adab Liqo: Rahasia Transformasi Diri Yang Lebih Bermakna
Mengapa Kadang Kita Merasa Lelah dengan Rutinitas Pertemuan Mingguan
Temen-temen, jujur saja, pernah nggak sih kita merasa kalau jadwal pertemuan rutin atau liqo setiap pekan itu seolah menjadi beban tambahan di tengah padatnya pekerjaan? Bisa jadi kita pernah berada di titik di mana raga hadir di lingkaran, tapi pikiran masih tertinggal di meja kantor atau tumpukan deadline yang belum usai.
Kadang kita merasa lelah dengan rutinitas. Seolah-olah pertemuan ini hanyalah sekadar transfer informasi yang bisa kita baca sendiri di internet atau dengarkan lewat podcast sambil lalu. Ada perasaan jenuh yang menyelinap, membuat kita bertanya-tanya: "Apa yang sebenarnya sedang aku cari di sini?"
Kita hidup di zaman yang serba cepat, di mana pencapaian duniawi seringkali menjadi satu-satunya standar kebahagiaan. Jika kita tidak hati-hati, jebakan rutinitas ini bisa menjauhkan kita dari hakikat pertemuan yang sesungguhnya, yakni sebagai sarana recharging jiwa yang kering akibat gesekan hiruk-pikuk dunia.
Saudaraku, kelelahan itu manusiawi. Namun, barangkali lelahnya kita bukan karena beratnya materi, melainkan karena kita belum sepenuhnya memahami bahwa jiwa manusia itu butuh "nutrisi" yang tidak bisa digantikan oleh liburan akhir pekan atau sekadar hobi. Jiwa kita butuh kembali pada akarnya.
Bayangkan kondisi masyarakat sebelum Islam datang. Mereka berada dalam titik nadir kehinaan, bukan karena mereka miskin harta, tapi karena mereka kehilangan arah dan kemuliaan jiwa. Allah menyentil fenomena ini dalam Al-Qur'an:
"...sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 151)
Tarbiyah atau pembinaan bukan sekadar ta'lim atau transfer ilmu biasa. KH. Hilmi Aminuddin pernah mengisyaratkan bahwa tarbiyah adalah upaya membuka kunci-kunci jiwa, hati, dan akal manusia. Ia bukan hanya tentang menambah hafalan, tapi tentang tashihul aqidah (meluruskan keyakinan) dan tashihul fikrah (meluruskan pola pikir).
Jika kita merasa liqo hanya sekadar rutinitas, mungkin kita perlu menilik kembali makna asal kata tarbiyah itu sendiri. Secara bahasa, ia berasal dari akar kata raba-yarbu yang berarti bertambah dan tumbuh. Artinya, seharusnya setiap pekan ada sesuatu yang bertumbuh di dalam diri kita, bukan sekadar menggugurkan kewajiban absen.
Tarbiyah adalah metode yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dalam membentuk khairu ummah (umat terbaik). Para sahabat nabi dulunya adalah masyarakat yang dilingkupi kebodohan (jahiliyyah), terjebak dalam maksiat, dan saling berperang antar suku hanya karena masalah sepele seperti perselisihan di arena pacuan kuda.
- Tilawah: Membaca ayat Allah secara spiritual untuk membangun komitmen amal.
- Tazkiyah: Menyucikan jiwa dari penyakit hati seperti ujub, riya, dan ketergantungan pada dunia.
- Ta'lim: Mengajarkan pedoman hidup yang presisi agar kita tidak tersesat dalam relativisme moral.
Transformasi para sahabat dari masyarakat yang rendah (dzillah) menjadi umat yang memiliki wibawa (izzah) tidak terjadi dalam semalam. Mereka berproses dalam madrasah tarbiyah yang berkelanjutan. Inilah rahasianya mengapa mereka tetap tangguh meski badai ujian dakwah menerjang dari segala sisi.
Bisa jadi, rasa lelah yang kita rasakan saat ini adalah sinyal bahwa hati kita sedang merindukan sentuhan rabbaniyah yang lebih dalam. Kita butuh tarbiyah bukan karena kita sudah pintar, tapi justru karena kita sadar betapa mudahnya hati ini terbolak-balik oleh godaan zaman.
Tarbiyah adalah proses pembentukan kepribadian Islam yang utuh. Kita tidak hanya diajak untuk shalih secara ritual, tapi juga kuat secara fisik (qowiyyul jismi), luas secara wawasan (mutsaqqaf fikri), dan bermanfaat bagi orang lain (nafi'un lighairihi). Tanpa proses ini, kita hanya akan menjadi buih yang terbawa arus, bukan kapal yang membelah samudera.
DAFTAR ISI ARTIKEL
- 1. Mengapa Kadang Kita Merasa Lelah dengan Rutinitas Pertemuan Mingguan
- 2. Antara Datang Sekadar Setor Muka dan Menjemput Cahaya Perubahan
- 3. Ngobrol Santai Soal Alasan Kita Masih Membutuhkan Sistem Pembinaan
- 4. Menakar Sejauh Mana Hati Kita Terpaut pada Majelis yang Membina
- 5. Langkah Sederhana Membangun Semangat dan Etika Hadir yang Berkah
- 6. Menjadi Pribadi Tangguh yang Konsisten Memberi Manfaat bagi Sesama
Antara Datang Sekadar Setor Muka dan Menjemput Cahaya Perubahan
Temen-temen, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, mengapa kita masih meluangkan waktu di antara tumpukan amanah dunia hanya untuk duduk melingkar? Bisa jadi kita pernah berada di titik jenuh, merasa liqo hanya sekadar ritual 'setor muka' agar tidak ditanya oleh murobbi atau teman sekelompok.
Padahal, urgensi tarbiyah dan adab liqo bukan sekadar tentang kehadiran fisik, melainkan tentang bagaimana kita menjemput transformasi jiwa yang total. Tanpa landasan yang kuat, pertemuan rutin ini akan terasa hambar dan hanya berpotensi menyeret kita pada kelelahan tanpa makna.
Saudaraku, mari kita renungkan sejenak. Sebelum Islam menyinari jazirah Arab, masyarakat saat itu berada dalam kondisi dzillah atau kehinaan yang nyata. Mereka bukan tidak pintar secara intelektual, tapi mereka kehilangan kompas kehidupan yang hakiki.
"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 151)
Ayat di atas adalah cetak biru bagaimana perubahan besar itu terjadi. Rasulullah ﷺ tidak sekadar memberikan informasi, tetapi melakukan proses pembinaan yang sistematis melalui empat pilar utama:
- Tilawah: Bukan sekadar membaca teks, tapi menyimak tanda-tanda kebesaran Allah dengan komitmen untuk mengikuti-Nya.
- Tazkiyah: Proses penyucian jiwa dari karat-karat kepentingan duniawi dan ego yang seringkali membutakan mata hati.
- Ta'limul Kitab: Mempelajari aturan main kehidupan yang presisi agar kita tidak tersesat dalam standar moral yang relatif.
- Al-Hikmah: Menanamkan kebijaksanaan agar setiap ilmu yang didapat mampu diimplementasikan dalam amal nyata yang bermanfaat.
Bisa jadi, kita merasa lelah karena kita baru sampai pada tahap transfer informasi (ta'lim), namun belum menyentuh esensi tarbiyah. Tarbiyah adalah upaya membuka kunci-kunci jiwa yang selama ini terbelenggu oleh rutinitas yang menjemukan.
Kadang kita perlu introspeksi, apakah adab kita dalam majelis ilmu sudah mencerminkan seorang penjemput cahaya? Imam Malik pernah memberikan pengingat yang sangat berharga bagi kita semua yang hidup di zaman penuh tantangan ini:
"Tidak akan bisa memperbaiki kondisi orang-orang yang datang kemudian dari umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki kondisi orang-orang pertamanya."
Artinya, resep untuk memperbaiki kualitas hidup dan mentalitas kita hari ini tetap sama dengan apa yang digunakan oleh para sahabat Nabi dahulu. Mereka berubah dari masyarakat yang gemar berselisih menjadi khairu ummah (umat terbaik) melalui proses pembinaan yang berkelanjutan.
Perubahan itu tidak bersifat instan. Ia adalah hasil dari kesabaran dalam meniti jalan tarbiyah, memperbaiki aqidah, meluruskan pola pikir, dan menghias diri dengan akhlak yang mulia di setiap pertemuan mingguan kita.
Saat kita mulai memahami bahwa setiap sesi liqo adalah bagian dari tarbiyah islamiyah yang syamil (menyeluruh), maka tidak ada lagi istilah 'sekadar hadir'. Setiap detik di dalamnya adalah investasi untuk membentuk kepribadian yang tangguh di hadapan ujian zaman.
Ngobrol Santai Soal Alasan Kita Masih Membutuhkan Sistem Pembinaan
Temen-temen, pernah nggak sih di tengah hiruk-pikuk deadline kantor atau tumpukan tugas kuliah, tiba-tiba terbersit tanya: "Kenapa ya aku harus meluangkan waktu buat liqo lagi? Kan materinya bisa dibaca sendiri?"
Kadang kita merasa lelah, dan itu manusiawi. Bisa jadi kita pernah berada di titik di mana pertemuan mingguan terasa seperti beban administratif daripada kebutuhan ruhani. Mari kita duduk sejenak, melepas penat, dan mencoba mengurai kegelisahan ini dalam obrolan hati ke hati.
Penanya: Tapi jujur ya, di zaman serba cepat ini, apa nggak cukup kalau kita belajar lewat video pendek atau baca artikel aja? Kenapa harus ada sistem pembinaan yang rutin dan mengikat?
Ust: Saudaraku, ada perbedaan mendasar antara tazwidul ma’lumat (menambah informasi) dan tashihul fikrah (meluruskan pola pikir). Informasi itu seperti kompas di tangan, tapi pembinaan atau tarbiyah adalah proses melatih kita agar sanggup berjalan melewati hutan belantara kehidupan yang penuh godaan.
Penanya: Jadi, urgensi tarbiyah dan adab liqo itu bukan cuma soal 'setor muka' tiap pekan, ya?
Ust: Sama sekali bukan. Ingat bagaimana Rasulullah ﷺ mengubah masyarakat yang dilingkupi dzillah (kehinaan) menjadi khairu ummah (umat terbaik)? Beliau tidak sekadar membagikan teks, tapi membangun sistem yang menyentuh empat pilar utama sebagaimana disebut dalam QS. Al-Baqarah: 151:
- Tilawah: Membangun kesadaran spiritual lewat ayat-ayat Allah.
- Tazkiyah: Membersihkan karat-karat kepentingan duniawi di hati kita.
- Ta'limul Kitab: Memberikan panduan hukum dan moral yang presisi.
- Al-Hikmah: Mengajarkan cara bersikap bijak di tengah fitnah zaman.
Penanya: Berarti kalau saya merasa liqo itu membosankan, mungkin ada yang perlu introspeksi dalam cara saya memandangnya?
Ust: Bisa jadi. Kadang kita datang dengan mentalitas 'pengamat', bukan 'penjemput cahaya'. Padahal, jiwa kita ini butuh 'gizi' yang berkelanjutan. Tanpa pembinaan yang sistematis, kita berpotensi menyeret diri sendiri pada arus relatifitas moral yang membuat kita kehilangan identitas sebagai Muslim.
Penanya: Tapi dunia sekarang beda dengan zaman jahiliyyah dulu. Tantangannya kan beda?
Ust: Esensinya tetap sama. Dulu mereka bertengkar puluhan tahun karena urusan pacuan kuda; sekarang mungkin kita habis energi karena urusan ego di media sosial. Solusinya pun tetap sama. Imam Malik pernah berpesan bahwa kondisi umat hari ini tidak akan membaik kecuali dengan apa yang telah memperbaiki kondisi generasi awalnya.
Penanya: Maksudnya, kita harus meniru cara para sahabat belajar?
Ust: Tepat sekali. Mereka tidak belajar secara instan. Mereka masuk ke dalam 'madrasah' pembinaan yang berkelanjutan. Di sanalah terjadi tazkiyatun nufus, di mana karakter kita ditempa agar tidak hanya shalih saat di masjid, tapi juga tangguh saat memikul amanah di luar sana.
"Wahai kaum mukmin, kalian benar-benar umat terbaik, yang ditampilkan ke tengah manusia lainnya, supaya kalian menyuruh manusia berbuat baik, mencegah perbuatan munkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran: 110)
Penanya: Berarti pembinaan ini semacam 'jangkar' agar kita nggak hanyut ya?
Ust: Benar. Di lingkaran itulah kita saling mengingatkan saat iman mulai futur. Tanpa itu, kita hanyalah individu-individu yang rentan patah. Melalui tarbiyah, kita bertumbuh (raba-yarbu) dari sekadar tahu menjadi mampu, dan dari mampu menjadi istiqamah beramal.
Kita butuh sistem pembinaan bukan karena kita sudah benar, tapi karena kita sadar betapa mudahnya hati ini terbolak-balik jika sendirian menghadapi kerasnya dunia.
Menakar Sejauh Mana Hati Kita Terpaut pada Majelis yang Membina
Temen-temen, jujur saja, pernahkah kita merasa bahwa duduk di lingkaran liqo setiap pekan hanyalah sebatas menggugurkan kewajiban di dalam agenda? Kadang kita datang dengan raga yang hadir, namun jiwa masih tertinggal di hiruk-pikuk pekerjaan atau bayang-bayang pencapaian duniawi yang seolah tak pernah ada habisnya.
Bisa jadi kita pernah terjebak pada perasaan bahwa materi yang disampaikan sudah pernah kita dengar sebelumnya. Di sinilah letak ujiannya; apakah kita hadir untuk menjemput hidayah atau sekadar memenuhi presensi? Ada batas tipis antara kelelahan manusiawi yang wajar dan pergeseran adab yang tanpa sadar mulai mengikis keberkahan ilmu.
Saudaraku, mari kita renungkan. Urgensi tarbiyah dan adab liqo sebenarnya terletak pada kesiapan hati untuk dibentuk. Jika kita datang tanpa persiapan ruhiyah, majelis ilmu yang seharusnya menjadi oase akan terasa seperti beban administratif. Allah mengingatkan kita tentang pentingnya proses penyucian jiwa sebelum ilmu itu menetap:
"...dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 151)
Kesalahan yang paling sering terjadi bukanlah saat kita merasa lelah secara fisik, melainkan saat kita mulai meremehkan interaksi ruhani di dalam majelis. Kelalaian manusiawi seperti datang terlambat karena macet tentu berbeda dengan sengaja menunda kehadiran karena merasa liqo bukan prioritas utama dibandingkan urusan bisnis.
Beberapa tanda yang membuat hati kita perlu introspeksi dalam menjaga adab majelis antara lain:
- Fokus yang Terbagi: Sibuk dengan gawai di bawah meja saat diskusi sedang berlangsung, yang berpotensi menyeret kita pada hilangnya keberkahan waktu.
- Hadir Tanpa Persiapan: Datang dengan hati yang penuh dengan sampah dunia tanpa mencoba melakukan tazkiyah (pembersihan) sejenak sebelum memulai.
- Merasa Cukup: Menganggap diri sudah memahami segalanya sehingga menutup pintu al-hikmah yang bisa datang dari lisan saudara seiman.
Ketahuilah bahwa tarbiyah berasal dari akar kata raba-yarbu yang berarti tumbuh. Jika tidak ada rasa ingin bertumbuh, maka liqo hanya akan menjadi rutinitas yang menjemukan. Perbedaan antara kita dan generasi sahabat bukan pada tumpukan kitab yang dibaca, melainkan pada bagaimana mereka memosisikan setiap ilmu sebagai panduan amal yang presisi.
Bisa jadi, keringnya hati kita saat ini adalah alarm bahwa kita sedang menjauh dari hakikat pembinaan. Kita butuh sistem ini bukan karena kita sudah benar, melainkan agar kita tetap berada dalam barisan yang saling menguatkan saat badai fitnah zaman mulai mengguncang prinsip tauhid kita.
Menjaga adab bukan untuk menyenangkan murobbi atau teman sekelompok, tapi sebagai bentuk penghormatan kita kepada warisan Rasulullah ﷺ. Saat kita memperbaiki adab, saat itulah cahaya tarbiyah akan mulai meresap, mengubah lelah menjadi lillah, dan mengubah rutinitas menjadi jalan menuju kemuliaan jiwa yang sesungguhnya.
Langkah Sederhana Membangun Semangat dan Etika Hadir yang Berkah
Temen-temen, kita tahu bahwa menjaga konsistensi itu tidak mudah. Kadang kita merasa terjepit antara tuntutan karier yang seolah menelan seluruh waktu dan kebutuhan nutrisi ruhani yang sering kita tunda. Bisa jadi kita pernah merasa bahwa hadir di majelis hanya soal fisik, padahal esensinya adalah tentang bagaimana kita membuka kunci-kunci jiwa agar cahaya hidayah bisa meresap.
Urgensi tarbiyah dan adab liqo bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan sebuah seni mengatur hati agar tidak gampang goyah oleh gesekan dunia. Bayangkan jika kita hadir tanpa persiapan hati; kita seperti wadah yang tertutup rapat, sebanyak apa pun air bening dituangkan, takkan ada yang masuk ke dalamnya. Maka, langkah praktis pertama adalah melakukan tashihul niyat atau meluruskan kembali alasan mengapa kita meluangkan waktu berharga ini.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Az-Zariyat: 55)
Ayat ini menegaskan bahwa kita semua butuh pengingat yang rutin. Untuk memastikan pertemuan mingguan kita tidak hanya menjadi rutinitas yang menjemukan, ada beberapa langkah nyata yang bisa kita praktikkan sebagai bentuk penghormatan terhadap majelis ilmu:
- Hadir dengan Hati yang Lapang: Sisihkan waktu 5-10 menit sebelum mulai untuk melepaskan beban pekerjaan. Katakan pada diri sendiri, "Dunia, tunggu sebentar di luar pintu, aku ingin bertemu dengan Rabb-ku melalui wasilah ilmu ini."
- Menjaga Fokus dan Interaksi: Simpan gawai kecuali untuk keperluan mencatat atau membaca dalil. Fokus yang terbelah berpotensi menyeret kita pada hilangnya keberkahan ilmu yang sedang disampaikan.
- Persiapan Materi: Mengingat tarbiyah bersifat mutazamminah (berkesinambungan), cobalah membaca kembali catatan pekan lalu sebelum pertemuan baru dimulai. Ini membangun kesiapan mental agar ilmu yang baru bisa bersambung dengan pemahaman sebelumnya.
- Komitmen Pasca-Pertemuan: Targetkan satu perubahan kecil dalam akhlak atau ibadah setiap minggunya (tashihul akhlaq). Ilmu tanpa amal hanyalah tumpukan informasi yang akan menguap begitu saja.
Saudaraku, proses pembentukan kepribadian Islam atau takwinus syakhshiyyah ini adalah perjalanan panjang, bukan lari sprint. Kita membutuhkan kesabaran untuk terus tumbuh berkembang (raba-yarbu) seperti tunas pohon yang kelak akan memberikan naungan bagi orang banyak. Jangan biarkan keletihan fisik membuat kita kehilangan izzah atau kemuliaan di mata Allah.
Ingatlah bahwa setiap adab yang kita jaga dalam majelis adalah investasi untuk masa depan akhirat kita. Saat kita memuliakan majelis ilmu, sejatinya kita sedang memuliakan Allah yang memberikan ilmu tersebut. Mari kita jadikan setiap pertemuan sebagai momentum tazkiyatun nufus, membersihkan karat-karat kepentingan duniawi agar kita siap memikul amanah yang lebih besar di kemudian hari.
Prinsip mutsaqqaf fikri atau wawasan yang luas tidak akan tercapai jika kita hanya menjadi pendengar pasif. Jadilah pembelajar yang aktif, yang bertanya untuk memahami dan mendengar untuk mengamalkan. Dengan begitu, liqo bukan lagi menjadi beban mingguan, melainkan oase yang paling kita rindukan di tengah padang pasir kehidupan yang gersang.
Menjadi Pribadi Tangguh yang Konsisten Memberi Manfaat bagi Sesama
Temen-temen, pada akhirnya, seluruh rangkaian pertemuan mingguan ini bukan hanya tentang seberapa banyak catatan yang kita kumpulkan di buku agenda. Bisa jadi kita pernah merasa lelah karena kita memandang tarbiyah hanya sebagai urusan 'memperbaiki diri' agar selamat sendirian. Padahal, ruh dari urgensi tarbiyah dan adab liqo adalah untuk mencetak pribadi yang kehadirannya bagaikan hujan; ke mana pun ia jatuh, ia membawa kehidupan.
Islam tidak menginginkan kita menjadi shalih yang terasing di puncak gunung, namun menginginkan kita menjadi pribadi yang tangguh di tengah hiruk-pikuk masalah umat. Keshalihan yang tidak melahirkan manfaat bagi orang lain adalah keshalihan yang perlu introspeksi. Rasulullah ﷺ memberikan standar yang sangat tinggi bagi kita semua:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)
Saudaraku, proses pertumbuhan yang kita sebut raba-yarbu ini sejatinya sedang mengumpulkan energi besar untuk sebuah ledakan kebaikan. Bayangkan sebuah bendungan; ia menampung air bukan untuk menahannya selamanya, melainkan untuk kemudian dialirkan menjadi tenaga listrik yang menyinari ribuan rumah. Itulah gambaran seorang mutarabbbi yang benar-benar memahami makna pembinaan.
Kadang kita merasa jenuh karena belum melihat kaitan antara adab dalam majelis dengan efektivitas kita di dunia profesional atau sosial. Padahal, saat kita belajar menundukkan ego di hadapan murobbi dan saudara seiman, saat itulah kita sedang melatih otot-otot kepemimpinan (qiyadah) dan empati yang akan kita gunakan untuk melayani umat. Tanpa adab, ilmu hanya akan melahirkan kesombongan yang menjauhkan manusia dari kebenaran.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mematrikan identitas kita sebagai umat terbaik, namun identitas itu mensyaratkan adanya aksi nyata di tengah masyarakat:
"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..." (QS. Ali Imran: 110)
Kata 'ukhrijat lin-naas' dalam ayat di atas bermakna 'dikeluarkan untuk manusia'. Artinya, kita memang sengaja dibina, ditempa, dan dipoles dalam lingkaran tarbiyah untuk kemudian 'dikeluarkan' ke tengah masyarakat sebagai solusi. Kita adalah jawaban atas doa-doa orang yang sedang kesulitan, bukan penambah beban bagi lingkungan sekitar.
- Nafi'un Lighairihi: Menjadikan setiap ilmu sebagai alat bantu untuk mempermudah urusan orang lain.
- Izzah: Memiliki kemuliaan diri yang membuat kita tidak goyah saat berdakwah di lingkungan yang menantang.
- Khidmat: Semangat melayani yang lahir dari rasa syukur atas hidayah yang telah Allah titipkan.
Bisa jadi, rasa lelah yang kita alami di jalan ini adalah cara Allah menggugurkan dosa-dosa kita sebelum kita diberi amanah yang lebih besar. Jangan berhenti hanya karena satu dua gesekan di dalam lingkaran. Teruslah tumbuh, teruslah membina diri, karena dunia sedang menunggu karya-karya terbaik dari tangan-tangan yang lahir dari madrasah tarbiyah yang penuh berkah ini.
— Tim Fun Quran
Artikel Terkait:
