Adab Izin Tidak Hadir Pengajian: Mengapa Memberitahu Saja Belum Tentu Cukup?
Seni Menghargai Waktu dalam Kebersamaan Majelis
Saudaraku, pernahkah kita merasa dunia ini begitu bising hingga rasanya ingin menghilang sejenak? Kadang kita berada di titik lelah yang luar biasa, burnout karena pekerjaan, atau merasa futur hingga sekadar membuka grup pesan saja terasa sangat berat.
Bisa jadi kita pernah memilih untuk diam, tidak hadir dalam majelis ilmu, dan membiarkan notifikasi tanpa jawaban. Kita menganggap itu hal kecil, namun bagi sebuah kebersamaan, kejelasan adalah nafas yang menjaga agar ukhuwah tidak terasa sesak.
Islam adalah agama yang sangat detail dalam mengatur hati, termasuk bagaimana kita bersikap saat tidak bisa memenuhi sebuah janji kebaikan. Ini bukan sekadar tentang aturan organisasi, tapi tentang integritas seorang mukmin di hadapan Allah SWT.
“Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya...” (QS. An-Nur: 62)
Dalam analogi modern, mungkin kita sering mendengar istilah ghosting atau mendadak hilang tanpa kabar (AFK). Meski perilaku ini tampak praktis untuk menghindari rasa tidak enak hati, dalam perspektif tauhid, ketidakjelasan informasi berpotensi menyeret kita pada perilaku yang kurang amanah.
Perlu kita introspeksi, saat para sahabat di masa Rasulullah SAW menggali parit di Perang Khandaq, ada perbedaan mencolok antara mereka yang beriman dengan mereka yang ragu. Orang-orang yang beriman, sesibuk apa pun urusan domestik mereka, tidak akan beranjak tanpa izin yang jelas kepada sang pemimpin.
- Meminta izin adalah simbol komunikasi yang efektif.
- Meminta izin menjaga kehormatan saudara kita yang menunggu.
- Meminta izin menunjukkan kematangan emosional dan spiritual.
Jangan sampai kita menyamakan kelalaian adab ini dengan kemunafikan yang disengaja. Namun, perilaku meninggalkan majelis tanpa kabar memiliki kemiripan dengan sikap orang-orang yang mencari-cari celah untuk pergi secara sembunyi-sembunyi karena kurangnya rasa tanggung jawab.
Dari Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Minta izin itu sampai tiga kali. Apabila diizinkan, maka masuklah kamu, dan apabila tidak diizinkan, maka pulanglah kamu.” (HR. Bukhari-Muslim)
Bayangkan jika setiap dari kita memahami bahwa izin bukan hanya soal prosedur, tapi soal memohon ampunan. Dalam QS. An-Nur: 62, Allah bahkan memerintahkan Rasulullah untuk memohonkan ampun bagi mereka yang meminta izin karena sebuah keperluan.
Jika yang meminta izin secara resmi saja butuh dimohonkan ampunan, lantas bagaimana dengan kita yang pergi tanpa kata? Tentu ini menjadi pengingat lembut bagi kita semua untuk kembali menata adab dalam bermajelis.
Mengapa meminta izin itu terasa berat bagi sebagian orang?
Kadang muncul rasa sungkan atau takut tidak diizinkan. Padahal, kejujuran jauh lebih menenangkan hati daripada bersembunyi di balik diam. Pemimpin yang bijak pasti memahami kondisi manusiawi setiap anggotanya.
Bagaimana jika saya benar-benar lupa karena kesibukan yang mendadak?
Islam adalah agama yang memudahkan. Segera sampaikan uzur setelah teringat dan mintalah maaf. Yang berbahaya bukanlah saat kita lupa, melainkan saat kita mulai menganggap bahwa tidak memberi kabar adalah hal yang lumrah dilakukan.
Menemukan Nilai Iman di Balik Sebuah Kata Izin
Saudaraku, kita seringkali menganggap bahwa iman hanyalah tentang apa yang ada di dalam hati atau apa yang kita lakukan di atas sajadah. Padahal, iman itu memancar hingga ke ujung jari saat kita mengetik pesan izin, atau dalam lisan saat kita berpamitan. Ada kaitan yang sangat erat antara ketulusan batin dengan bagaimana kita menghargai sebuah kebersamaan dalam majelis.
Bisa jadi kita merasa bahwa urusan izin adalah urusan teknis belaka. Namun, Allah SWT justru meletakkan standar keimanan seseorang pada adab ini. Mari kita tadabburi ayat yang menjadi oase bagi jiwa yang rindu akan keteraturan syariat ini:
“Sesungguhnya (yang disebut) orang mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya...” (QS. An-Nur: 62)
Kadang kita bertanya, mengapa Allah menggunakan kata ‘Innama’ (hanyalah) dalam ayat tersebut? Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah pembatas. Seolah-olah Allah ingin membisikkan kepada hati kita bahwa salah satu ciri utama kemurnian iman adalah tidak menghilang begitu saja saat amanah sedang dipikul bersama.
Dalam tinjauan sejarah, Imam Al-Qurtubi mengisahkan bahwa ayat ini berkaitan dengan peristiwa besar penggalian parit di Perang Khandaq. Saat itu, ada sekelompok orang yang berangsur-angsur pergi secara sembunyi-sembunyi (liwadza) dengan mencari-cari alasan palsu demi menghindari kesulitan. Perilaku ini memiliki kemiripan dengan ketidakjelasan kabar yang mungkin tanpa sengaja pernah kita lakukan.
- Izin adalah bentuk pengakuan bahwa kita adalah bagian dari bangunan yang utuh (jamaah).
- Izin menunjukkan bahwa kita menghargai waktu dan perasaan saudara seiman yang sedang berjuang di majelis.
- Izin yang jujur adalah pelindung dari sifat-sifat yang merusak integritas diri.
Mari kita bayangkan sejenak analogi sederhana ini. Dalam dunia digital, kita mengenal istilah “Invisible Mode” atau menyembunyikan status kehadiran. Meski di dunia maya itu adalah fitur, namun dalam kehidupan dakwah, sengaja menghilang tanpa kabar di saat sedang dibutuhkan justru bisa mengaburkan kejelasan informasi dan menghambat efektivitas amal shalih.
Refleksi menarik muncul dari kisah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu saat Perang Tabuk. Beliau meminta izin karena ada udzur syar'i yang nyata. Rasulullah pun bersabda, “Demi Allah, engkau bukan termasuk orang yang ragu (dalam iman).” Ucapan Nabi ini menegaskan bahwa menyampaikan adab izin tidak hadir pengajian dengan jujur justru menjaga kehormatan seorang muslim, bukan menjatuhkannya.
Dari Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Minta izin itu sampai tiga kali. Apabila diizinkan, maka masuklah kamu, dan apabila tidak diizinkan, maka pulanglah kamu.” (HR. Bukhari-Muslim)
Satu hal yang menyentuh hati adalah bagian akhir dari QS. An-Nur ayat 62, di mana Allah memerintahkan untuk memohonkan ampunan bagi mereka yang meminta izin. Ini adalah isyarat lembut bahwa meninggalkan majelis ilmu, meski dengan alasan yang benar, tetaplah sebuah kehilangan keberkahan yang perlu ditambal dengan istighfar.
Apakah meminta izin berarti saya tidak mandiri dalam mengatur waktu?
Justru sebaliknya, meminta izin menunjukkan kematangan dalam berorganisasi dan bersosialisasi. Ini adalah bagian dari suluk tandzhimi (adab berorganisasi) yang diajarkan Islam agar kegiatan dakwah tetap terevaluasi dan berjalan lancar tanpa ada pihak yang merasa ditinggalkan.
Bagaimana jika saya khawatir udzur saya dianggap remeh oleh pimpinan majelis?
Ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui setiap getaran di lubuk hati kita. Tugas kita adalah menyampaikan kejujuran dengan adab yang baik. Seorang pemimpin yang bijak akan memberikan kelonggaran jika melihat anggotanya memiliki urusan yang mendesak, sesuai dengan kaidah maslahat dan madzarat.
Beda Tipis Antara Meminta Izin dan Sekadar Memberi Tahu
Temen-temen, terkadang kita terjebak dalam rasa cukup hanya dengan mengetik satu kalimat di grup pesan singkat. Kita merasa ketika sudah menulis “Saya izin tidak hadir,” maka urusan selesai. Padahal, ada sekat tipis namun mendalam yang membedakan antara sekadar memberi tahu secara sepihak dengan meminta izin dengan penuh adab.
Bisa jadi kita pernah melakukannya karena merasa urusan kita jauh lebih mendesak. Namun, pernahkah kita merenungkan bahwa adab izin tidak hadir pengajian bukan hanya soal administrasi? Ini adalah tentang bagaimana kita memposisikan diri di hadapan Allah dan saudara seiman dalam sebuah barisan yang teratur.
“(Yang disebut) orang mukmin hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya...” (QS. An-Nur: 62)
Dalam bahasa yang lebih menyentuh, meminta izin adalah bentuk pengakuan bahwa kita adalah bagian dari sebuah tubuh yang utuh. Memberi tahu adalah komunikasi satu arah yang seringkali bersifat transaksional, mirip dengan cara kita memperlakukan layanan otomatis. Sedangkan meminta izin adalah dialog hati yang mengharapkan keridhaan dan doa dari mereka yang kita tinggalkan sejenak.
Kadang kita merasa sungkan, seolah meminta izin membuat kita terlihat lemah atau tidak mandiri. Padahal, dalam kacamata tauhid, ini adalah wujud suluk tandzhimi atau adab berorganisasi yang sangat mulia. Kita tidak ingin menjadi orang yang “berangsur-angsur pergi dengan berlindung di balik saudaranya” sebagaimana perilaku yang perlu kita introspeksi agar tidak menyeret kita pada kelalaian iman.
- Memberi tahu fokus pada kepentingan diri sendiri agar tidak dicari.
- Meminta izin fokus pada keberkahan majelis dan penghormatan terhadap pemimpin.
- Izin yang tulus akan diiringi dengan istighfar, karena ada nilai perjuangan yang terlewatkan.
Mari kita bayangkan sebuah analogi sederhana. Meminta izin itu seperti mengetuk pintu dan menunggu jawaban, sementara sekadar memberi tahu itu seperti melempar batu ke jendela lalu pergi begitu saja. Keduanya mungkin sama-sama memberi sinyal kehadiran atau ketidakhadiran, namun rasa yang ditinggalkan di hati saudara kita tentu sangat jauh berbeda.
Saudaraku, jangan sampai kita merasa terbebani. Rasulullah SAW bahkan disunnahkan untuk memohonkan ampun bagi mereka yang meminta izin dengan alasan yang jujur. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memahami keterbatasan manusia, namun Islam tetap menuntut kita untuk menjaga keteraturan dan kejelasan kabar agar dakwah tetap terevaluasi dengan baik.
Apa bedanya secara mental antara 'memberitahu' dan 'meminta izin'?
Memberitahu cenderung bersifat informatif dan sepihak, seringkali didorong oleh ego untuk sekadar menggugurkan kewajiban. Sedangkan meminta izin adalah bentuk tawadhu (rendah hati) yang menunjukkan bahwa kita menghargai otoritas majelis dan menjaga keterikatan hati dengan jamaah.
Bagaimana jika saya harus pergi mendadak dan tidak sempat menunggu jawaban izin?
Islam adalah agama yang memudahkan dan tidak menyulitkan. Sampaikanlah pesan Anda dengan bahasa yang memohon keridhaan, bukan sekadar memaksakan keadaan. Segera setelah urusan selesai, sampaikanlah permohonan maaf dan mintalah informasi mengenai materi yang tertinggal agar integritas ilmu tetap terjaga.
Mengevaluasi Alasan di Balik Keinginan untuk Absen
Saudaraku, ada satu perasaan yang barangkali pernah menghampiri kita semua: rasa enggan untuk mengetik pesan izin saat tidak bisa hadir di majelis. Kadang kita merasa udzur kita terlalu duniawi, seperti kelelahan sepulang kerja, atau mungkin kita merasa bahwa kehadiran satu orang seperti kita tidak akan memberikan pengaruh besar pada jalannya pengajian.
Bisa jadi kita pernah memilih untuk diam, bukan karena ingin meremehkan, tapi karena merasa 'sungkan' atau justru merasa urusan pribadi kita tidak perlu diketahui orang lain. Namun, di sinilah letak titik kritisnya. Para ulama menjelaskan bahwa adab dalam meminta izin adalah cermin dari bagaimana seorang hamba menghargai keteraturan yang telah Allah gariskan.
“Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63)
Ayat ini memberikan gambaran tentang perilaku liwadza, yaitu fenomena di mana seseorang menghilang pelan-pelan dari sebuah tanggung jawab kolektif dengan bersembunyi di balik punggung saudaranya. Perilaku ini memiliki kemiripan dengan kebiasaan kita hari ini yang sering kali 'menghilang' dari grup koordinasi tanpa kejelasan, seolah-olah ketidakhadiran kita adalah hal yang bisa dianggap lumrah begitu saja.
Perlu kita introspeksi, apakah diamnya kita lahir dari udzur yang syar'i atau justru dari rasa malas yang dibungkus dengan alasan privasi? Dalam analogi sederhana, mengabaikan adab izin itu seperti seseorang yang mematikan fitur 'last seen' di aplikasi pesan agar tidak perlu merespons, padahal ada amanah yang sedang ditunggu oleh saudaranya di ujung sana.
- Kelalaian adab sering kali berawal dari menganggap kecil sebuah komitmen.
- Kejujuran dalam menyampaikan udzur adalah bentuk penjagaan terhadap kehormatan diri.
- Meminta izin bukan berarti mengumbar aib, melainkan bentuk pertanggungjawaban sosial.
Para ulama menjelaskan bahwa perintah meminta izin dalam QS. An-Nuur ayat 62-63 bukan sekadar formalitas, melainkan alat untuk menyaring mana jiwa yang memiliki komitmen kuat dan mana yang masih perlu pembinaan intensif. Jangan sampai kelalaian ini berpotensi menyeret kita pada karakter yang tidak disiplin, yang pada akhirnya akan merugikan efektivitas dakwah itu sendiri.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian ingin duduk di majelis hendaknya dia mengucapkan salam, dan ketika dia ingin meninggalkannya hendaknya mengucapkan salam...” (HR. Abu Dawud)
Hadits ini menegaskan bahwa setiap interaksi dalam majelis, baik saat datang maupun pergi, memiliki 'pagar' berupa salam dan izin. Ini adalah cara Islam memuliakan manusia. Dengan meminta izin, kita sebenarnya sedang memuliakan waktu guru kita, menghargai tempat yang sudah disediakan, dan menjaga hati teman-teman se-majelis agar tidak timbul prasangka.
Mengapa kita sering merasa berat untuk menyampaikan alasan yang sejujurnya?
Kadang muncul ketakutan bahwa alasan kita akan dianggap remeh atau tidak cukup kuat. Padahal, kejujuran jauh lebih mendatangkan barakah. Pemimpin majelis yang bijak akan memahami keterbatasan manusiawi setiap anggotanya selama dikomunikasikan dengan cara yang ahsan.
Bagaimana jika alasan ketidakhadiran saya sangat pribadi dan sensitif?
Anda tidak perlu menceritakan detail masalahnya secara gamblang. Cukup sampaikan bahwa ada “keperluan keluarga yang sangat mendesak” atau “kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan”. Yang terpenting adalah adanya kabar yang jelas, sehingga posisi Anda di dalam jamaah tetap terukur dan tidak meninggalkan lubang ketidakpastian.
Langkah Praktis Menjaga Adab Saat Berhalangan Hadir
Saudaraku, kita semua memahami bahwa waktu adalah modal yang sangat berharga. Kadang kita merasa terjepit antara kewajiban mencari nafkah dengan kerinduan untuk menuntut ilmu. Bisa jadi kita pernah merasa sangat berat untuk sekadar mengirim pesan izin karena merasa alasan kita terlalu remeh atau takut tidak dipahami.
“Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka...” (QS. An-Nur: 62)
Agar integritas kita sebagai penuntut ilmu tetap terjaga, ada beberapa langkah nyata yang bisa kita terapkan tanpa merasa terbebani oleh formalitas. Berikut adalah panduan sederhana yang bisa kita praktikkan dalam mengelola adab izin tidak hadir pengajian:
- Berikan Kabar di Awal Waktu: Segera setelah mengetahui ada udzur yang tidak bisa dihindari, sampaikanlah pesan tersebut. Menunda kabar hingga menit terakhir berpotensi mengganggu perencanaan majelis dan persiapan saudara-saudara kita lainnya.
- Gunakan Pilihan Kata yang Santun: Ubah kalimat informatif seperti “Saya tidak hadir” menjadi permohonan yang lebih lembut seperti “Mohon rida dan izinnya, hari ini ada udzur keluarga yang mendesak.” Ini adalah bentuk ketundukan hati yang membedakan kita dari sekadar pemberi pengumuman.
- Menitipkan Amanah dan Doa: Mintalah saudara yang hadir untuk mendoakan agar urusan kita dimudahkan, dan nyatakan keinginan untuk mengejar ketertinggalan materi. Ini menunjukkan bahwa hati kita sebenarnya masih terpaut pada majelis tersebut meski fisik berhalangan.
Perlu kita introspeksi bersama, sering kali alasan kita menghilang tanpa kabar bukanlah karena kesibukan yang luar biasa, melainkan karena rasa enggan untuk menjelaskan. Dalam dunia yang serba cepat ini, perilaku mendadak hilang atau ghosting mungkin dianggap praktis, namun bagi seorang mukmin, kejelasan informasi adalah bagian dari amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Ingatlah bahwa meminta izin adalah cara kita menghargai waktu guru dan teman se-majelis. Ketika kita meminta izin dengan jujur, kita sedang membangun fondasi kepercayaan yang kuat. Seorang pemimpin majelis yang bijak pasti akan memberikan kelonggaran jika melihat kejujuran dalam komunikasi kita.
Dari Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Minta izin itu sampai tiga kali. Apabila diizinkan, maka masuklah kamu, dan apabila tidak diizinkan, maka pulanglah kamu.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hadits ini mengajarkan kita bahwa ada proses dalam berinteraksi yang harus dihormati. Jangan sampai kita menganggap bahwa ketidakhadiran kita adalah hal kecil yang tidak berdampak. Justru dengan keterbukaan, kita menjaga agar ritme dakwah tetap stabil dan tidak ada lubang ketidakpastian yang bisa menghambat gerak jamaah.
Bagaimana jika saya baru teringat ada pengajian saat acara sudah berlangsung?
Sampaikanlah udzur segera saat teringat dengan penuh kerendahan hati. Meminta maaf atas keterlambatan memberi kabar jauh lebih baik dan lebih mulia daripada membiarkan ketidakjelasan tersebut berlarut-larut hingga pertemuan berikutnya, karena pengakuan atas kelalaian adalah pintu perbaikan.
Apakah saya harus menjelaskan secara detail masalah pribadi saya saat izin?
Tidak perlu mengumbar privasi secara berlebihan. Cukup gunakan bahasa yang sopan dan mencakup poin utama, misalnya “Ada keperluan keluarga yang mendesak”. Yang terpenting adalah adanya kabar yang jelas sehingga posisi Anda dalam koordinasi jamaah tetap terukur dan tidak menimbulkan prasangka.
Menjaga Kehangatan Ukhuwah di Luar Ruang Pertemuan
Temen-temen, pada akhirnya kita perlu menyadari bahwa adab bukan sekadar kumpulan aturan kaku yang membatasi gerak. Adab adalah bahasa cinta tertinggi dalam sebuah persaudaraan, sebuah jembatan yang menghubungkan hati meski raga tak lagi berada di ruang yang sama.
Bisa jadi kita merasa bahwa berpamitan atau meminta izin adalah beban administrasi yang melelahkan. Namun, bagi saudara seiman yang sedang berjuang di jalan dakwah, kabar yang jelas dari kita adalah penyejuk hati yang menandakan bahwa kita masih menghargai kebersamaan ini.
Islam mengajarkan kita untuk melihat segala sesuatu melalui kacamata tauhid, di mana setiap interaksi manusiawi adalah bentuk pengabdian kepada Sang Khaliq. Menjaga adab izin tidak hadir pengajian bukan tentang formalitas kepada manusia, melainkan tentang menjaga amanah di hadapan Allah SWT.
“...dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 62)
Mari kita renungkan bagian akhir ayat tersebut dengan mendalam. Mengapa Allah memerintahkan Rasulullah untuk memohonkan ampunan bagi mereka yang meminta izin? Ini adalah isyarat bahwa setiap perpisahan, meskipun memiliki udzur yang sah, tetaplah sebuah kehilangan yang perlu ditutup dengan rahmat Allah.
Kadang kita khawatir udzur kita terlihat remeh, namun ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui setiap niat yang tersembunyi. Sifat Allah yang Ghofur (Maha Pengampun) dan Rahim (Maha Penyayang) menjadi pengingat bahwa pintu maaf-Nya selalu terbuka bagi hamba yang mau memperbaiki diri melalui kejujuran adab.
Analogi sederhana, ukhuwah itu seperti sebuah bangunan yang kokoh. Jika satu batu bata bergeser tanpa pemberitahuan, keseimbangan seluruh bangunan bisa terganggu; namun jika pergeseran itu dikomunikasikan, batu bata yang lain bisa saling menopang agar bangunan tetap tegak.
- Adab menjaga kita dari sifat merasa tidak butuh pada orang lain.
- Adab melatih kejujuran jiwa meski dalam hal-hal kecil.
- Adab memastikan bahwa dakwah bukan sekadar kumpul-kumpul, melainkan keterikatan hati yang terpimpin.
Jangan sampai kita membiarkan ukhuwah kita mendingin hanya karena ego untuk tidak berkabar. Mari jadikan setiap kata izin kita sebagai doa, agar meski fisik kita absen dari majelis, hati kita tetap terhitung sebagai orang-orang yang merindukan kebaikan dan rida-Nya.
Mengapa Islam mensunnahkan istighfar bagi mereka yang berpamitan dari majelis?
Istighfar berfungsi untuk menambal kekurangan yang mungkin terjadi selama berinteraksi di majelis. Selain itu, memohon ampunan adalah pengakuan bahwa meski kita memiliki udzur, kita merasa kehilangan momentum keberkahan bersama saudara seiman.
Apakah adab meminta izin ini hanya berlaku di pengajian formal saja?
Tidak, adab adalah pakaian seorang muslim di mana pun ia berada. Membiasakan diri meminta izin dalam urusan bersama menunjukkan kematangan mental dan spiritual, baik itu dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun komunitas dakwah.
— Tim Fun Quran
Artikel Terkait:
